SINDROM SMOKER

SINDROM SMOKER

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin mata kita gak pernah gak ngeliat rokok (maksudnya sering ngeliat geto..) di toko, tv, iklan-iklan dipinggir jalan atau ngeliat orang terdekat kita ngerokok. Perokok yang lebih kerennya dibilang smoker semakin tahun mungkin semakin bertambah yang mana smoker adalah cowok walau cewek juga ada (tapi seringnya smoker cewek cenderung tersembunyi karena terbentur etika dalam budaya kita).

Kenapa di dunia ini ada rokok?. Aku sering berpikir, kenapa tidak kita musnahkan semua rokok di dunia. Rokok itu menyebalkan sekaligus berbahaya. Betapa berbahanya rokok itu. Bahaya rokok yang aku tahu:
1. Asap rokok bikin sesak napas. Asap rokok itu menyebalkan, sudah baunya gak enak bikin sesak napas pula.
2. Kalau gak salah dibungkus rokok ada peringatan “Rokok dapat menyebabkan serangan jantung, hipertensi, gangguan kehamilan dan janin”. Emang ada peringatan di bungkus rokok, tapi tulisannya kecil udah gitu gak mencolok lagi, ya tetep aja gak bakalan ada efeknya.
3. Smoker pasif memiliki predisposisi 2X atau 3X terserang dampak negative dari rokok daripada smoker aktif.
4. Rokok dapat menyebabkan anak dilahirkan cacat atau mengalami LD (Learning Disabilities) apabila kedua orang tuanya merokok.
5. Rokok dapat menurun pada keturunannya. Berdasarkan penelitian penurunan ini bukan berdasarkan genetis tapi dari belajar sosial.

Semua orang tahu bahaya rokok tersebut bahkan lebih tau daripada aku karena smoker ada diberbagai strata sosial, tapi kenapa tetap merokok?. Kenapa semakin lama smoker semakin bertambah bahkan usia SD pun sudah merokok?. Jawabannya karena mereka sudah menutup mata, hati dan telinga buat melihat semua keburukan rokok itu (berlebihan ya ^^).
Tahu kalau sesuatu itu buruk dan merugikan orang lain dan dirinya tapi tetap melakukannya adalah pengertian sindrom smoker. Smoker tetap merokok walau itu berbahaya karena melakukan berbagai rasionalisasi yang tampaknya memang masuk akal. Rasionalisasi yang biasanya dilakukan smoker antara lain:

1. “Rokok itu menenangkan, meningkatkan percaya diri dan dapat menghilangkan stress”
Dalam rokok mengandung nikotin dan nikotin adalah termasuk stimulan (salah satu jenis zat adiktif). Stimulan tersebut fungsinya adalah meningkatkan perasaan euphoria (perasaan bahagia) dan self-confident. Inilah penyebab kenapa rokok dapat meningkatkan rasa percaya diri dan bahagia. Tapi ada cara lain untuk bahagia dan percaya dengan cara cara yang lebih sehat. Jangan kalian gantungkan perasaan bahagia dan percaya diri pada ROKOK.

2. “Kalau gak ngerokok, aku takut dibilang bencong”
Rokok sama sekali gak ada hubungangannya dengan kejantanan seoarang pria. Salah satu bahaya rokok adalah impotensi, nah lho, kalau impotensi menyerang smoker, sekarang siapa yang dibilang bencong?,

3. “Teman-teman ngejek aku kere kalau gak beli rokok”
Aku punya pengalaman dengan hal ini. Temenku pernah bercerita waktu itu dia cuma punya uang lima ribu, tau gak apa yang dia lakukan, dia memilih beli rokok daripada makanan padahal saat itu dia lapar. Yang ingin aku tanyakan pada smoker, emang rokok itu mengenyangkan?. Hayo sekarang siapa yang kere, bukannya rokok bikin orang kere menjadi lebih kere.

4. “Rokok membantu aku dalam mendapatkan inspirasi”
Ehm..Mungkin karena stimulant yang ada dalam rokok itu dapat meningkatkan dopamine dalam otak sehingga neurotransmitter tersedia dalam tingkat yang tinggi dan kondisi keterangsangan system saraf tinggi. Hal ini mungkin yang menyebabkan impuls-impuls informasi berjalan sangat aktif dalam otak sehingga inspirasi mudah didapatkan. Tapi pernah terpikirkan gak kalau hal ini terkesan memaksakan otak?. Otak akan bekerja semaksimal mungkin kok tanpa kita paksa dengan rokok.

5. “Kalau gak ada rokok dan pabrik rokok ditutup, pasti akan bertambah pengangguran di Indonesia”
Kalau menyangkut masalah lapangan pekerjaan di Indonesia, keputusan menutup pabrik rokok merupakan hal yang sulit karena menyangkut kehidupan para pekerjanya (Yah emang nasib, SDM Indonesia jarang yang kreatif so sukanya manja meminta lapangan kerja). Tapi sebagai pengganti pabrik rokok, kita buat perusahaan yang bertema “Bahagia tanpa rokok”. Gimana?. Setuju?.

6. “Tanpa rokok manusia pasti mati, mending ngerokok aja toh entar sama-sama mati”.
Kata diatas adalah bentuk egoisme dari seorang smoker. Sadar gak sih kalau mungkin aja orang yang gak merokok itu mati gara-gara menghirup asap rokok dari smoker. Ingat perokok pasif memiliki resiko lebih besar dari perokok aktif. Aku gak mengerti dengan smoker yang merokok didepan orang yang dia cintai. Katanya cinta, tapi kenapa membahayakan orang yang dia cintai dengan menjadikan kekasihnya itu passive smoker.

7. “Kalau gak ngerokok, mulut rasanya gak enak”
Ada seorang pasien di RSJ Lawang yang gak bisa lepas dari rokoknya. Setiap saat dia ngerokok tiada henti kecuali tidur tentunya. Tau gak kenapa? Karena mungkin saat fase oral yaitu usia 0-2 tahun, dia tidak mendapat kepuasan didaerah oral, so saat dewasa melakukan kastarsi dengan rokok sebagai objek pemuasnya (berdasarkan Teori Psikoseksual Freud). Mungkin ini juga yang menjadi penyebabnya kenapa mulut terasa gak nyaman saat gak ngerokok pada diri smoker. Smoker mencari objek kastarsi yaitu rokok.

Menurutku pabrik rokok mungkin juga ada rasa bersalah karena memproduksi barang berbahaya (rokok). Tau gak kenapa?, karena pabrik rokok melakukan kompensasi atas penjualan rokok itu. Kompensasinya misalnya dengan memberikan bea siswa, program-program kesehatan untuk masyarakat, dll. Tuh, pabrik rokok aja merasa bersalah, kenapa gak berhenti merokok aja sih?


Silver_Knight

Template by : Vpulsa vib-echo.blogspot.com